Sabtu, 14 Januari 2012

CHIKUNGUNYA


BAB I
PENDAHULUAN


1.1 LATAR BELAKANG
            Chikungunya merupakan sejenis demam yang disebabkan oleh virus yang disebarkan oleh nyamuk dari spesies Aedes aegypti. Kata Chikungunya berasal dari bahasa Swahili (Tanzania) yang berarti “melengkung ke atas” dimana yang dimaksud adalah tubuh yang membungkuk akibat gejala-gejala arthritis penyakit tersebut.
Gejala penyakit ini adalah demam mendadak  mencapai 39o C. Adanya bintik-bintik pada kulit, nyeri pada persendian terutama sendi di lutut, pergelangan, jari kaki dan tangan serta tulang belakang.
Penyakit ini memang kurang diketahui oleh masyarakat. Karena penyakit ini memiliki ciri-ciri yang mirip dengan demam berdarah. Tetapi yang membedakan adalah  penyakit Chikungunya tidak mematikan seperti halnya dengan demam berdarah. Karena penyakit ini bersifat Self Limiting Disease yang berarti dapat sembuh dengan sendirinya.
Seperti halnya dengan demam berdarah, obat terhadap virus penyebab penyakit Chikungunya belum ada begitu pula dengan vaksinnya. Oleh karena itu, penulis membahas penyakit Chikungunya ini secara lebih mendalam dengan harapan pembaca tidak menyepelekan penyakit ini walaupun penyakit Chikungunya bisa sembuh dengan sendirinya dan tidak bersifat mematikan. Tetapi sebaliknya, kita harus lebih berhati-hati dan waspada dengan cara memahami pencegahan dan  gejala-gejala penyakit Chikungunya tersebut agar tidak mengganggu aktivitas nantinya.

1.2 TUJUAN
            Dari latar belakang di atas adapun tujuan yang ingin dicapai adalah
1.      Untuk mengetahui sejarah penyakit Chikungunya.
2.      Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan penyakit Chikungunya dan penyebabnya.
3.      Untuk mengetahui gejala-gejala penyakit Chikungunya.
4.      Untuk mengetahui cara penyebaran penyakit Chikungunya.
5.      Untuk mengetahui pencegahan dan penanggulangan penyakit Chikungunya.
1.3 RUMUSAN MASALAH
            Berdasarkan latar belakang dan tujuan di atas, dapat kami rumuskan beberapa masalah sebagai berikut :
1.      Bagaimanakah sejarah penyakit Chikungunya tersebut?
2.      Apa yang dimaksud dengan penyakit Chikungunya dan apa penyebabnya?
3.      Bagaimanakah gejala-gejala penyakit Chikungunya?
4.      Bagaimanakah penyebaran penyakit Chikungunya tersebut?
5.      Bagaimanakah pencegahan dan penanggulangan penyakit Chikungunya?


BAB II
PEMBAHASAN


2.1 SEJARAH PENYAKIT CHIKUNGUNYA
Chikungunya adalah sejenis demam virus yang disebabkan alphavirus yang disebarkan oleh gigitan nyamuk dari spesies Aedes aegypti. Sekitar 200-300 tahun lalu virus chikungunya (CHIK) merupakan virus pada hewan primata di tengah hutan atau savana di Afrika. Satwa primata yang dinilai sebagai pelestari virus adalah bangsa baboon (Papio sp.) dan Cercopithecus sp.
Pembuktian ilmiah yang meliputi isolasi dan identifikasi virus Chikungunya baru berhasil dilakukan ketika penyakit ini pertama kali dicatat di Tanzania, Afrika pada tahun 1952. Tidak heran bila namanya pun berasal dari bahasa setempat (bahasa Swahili), yang artinya adalah “yang berubah bentuk atau bungkuk”. Postur penderitanya memang kebanyakan membungkuk akibat nyeri hebat di persendian tangan dan kaki. Kemudian penyakit Chikungunya ditemukan lagi di Uganda pada tahun 1963 (http://WikipediaIndonesia.com).
Di Indonesia Demam Chikungunya dilaporkan pertama kali di Samarinda pada tahun 1973. Kemudian berjangkit di Kuala Tunkal, Jambi, tahun 1980. Pada tahun 1983 merebak di Martapura, Ternate dan Yogyakarta. Setelah vakum hampir 20 tahun, awal tahun 2001 kejadian luar biasa ( KLB ) demam Chikungunya terjadi di Muara Enim, Sumatera Selatan dan Aceh (http://www.info@infeksi.com). Disusul Bogor pada bulan Oktober tahun 2001 penderita chikungunya banyak ditemukan di Tanah Sareal. Kemudian pada bulan Juli 2005, puluhan warga RT 20/09 Kampung Pintu Kapuk, Desa Bojong Renged, Teluk Naga, Kabupaten Tanggerang, juga terserang penyakit ini. Demam Chikungunya ditemukan lagi di Bekasi (Jawa Barat), Purworejo dan Klaten (Jawa Tengah) tahun 2002 (http://www.InfoAktual.com).

2.2 PENYAKIT CHIKUNGUNYA DAN PENYEBABNYA
Penyakit Chikungunya disebabkan oleh sejenis virus yang disebut virus Chikungunya. Virus ini masuk famili Togaviridae, genus Alphavirus. Virus ini tergolong jenis virus RNA dan dipindahkan dari satu penderita ke penderita lain melalui gigitan nyamuk, antara lain Aedes aegypti, Aedes albopictus, Aedes africanus, Aedes luteocephalus, Aedes opok, Aedes furciper, Aedes taylori, dan  Aedes cordelierri. Virus ini akan berkembang biak di dalam tubuh manusia. Virus menyerang semua usia, baik anak-anak maupun dewasa di daerah endemis. Secara mendadak penderita akan mengalami demam tinggi selama lima hari, sehingga dikenal pula istilah demam lima hari.



Masa inkubasi dari demam Chikungunya 2 sampai 4 hari. Penyakit yang muncul akan berlangsung 3 sampai 10 hari. Virus ini termasuk self limiting disease alias hilang dengan sendirinya. Namun, rasa nyeri masih tertinggal dalam hitungan minggu sampai bulan. Sewaktu virus berkembang biak di dalam darah, penderita merasa nyeri pada tulang-tulangnya terutama di seputar persendian sehingga tidak berani menggerakkan anggota tubuh. Namun, bukan berarti terjadi kelumpuhan.
Penyakit Chikungunya sulit menyerang penderita yang sudah pernah terjangkit penyakit Chikungunya sebelumnya. Tubuh penderita akan membentuk antibodi yang akan membuat mereka kebal terhadap wabah penyakit ini di kemudian hari. Dengan demikian, kecil kemungkinan bagi mereka untuk terkena penyakit Chikungunya lagi.

2.3 GEJALA PENYAKIT CHIKUNGUNYA
            Gejala utama penyakit Chikungunya adalah tiba-tiba tubuh terasa demam (39oC) diikuti dengan linu di persendian. Satu gejala yang khas adalah timbulnya rasa pegal-pegal, ngilu, juga timbul rasa sakit pada tulang-tulang, sehingga ada yang menamai penyakit ini  sebagai demam tulang atau flu tulang. Penyakit Chikungunya menyerang tidak mengenal usia, baik orang dewasa, maupun anak-anak. Pada anak kecil dimulai dengan demam mendadak, kulit kemerahan. Ruam-ruam merah (kumpulan bintik-bintik kemerahan)  itu muncul setelah 3-5 hari. Mata biasanya merah disertai tanda-tanda seperti flu. Sering dijumpai anak kejang demam. Pada anak yang lebih besar, demam biasanya diikuti rasa sakit pada otot dan sendi, serta terjadi pembesaran kelenjar getah bening. Pada orang dewasa, gejala nyeri sendi dan otot sangat dominan dan sampai menimbulkan kelumpuhan sementara karena rasa sakit bila berjalan. Kadang-kadang timbul rasa mual sampai muntah. Pada umumnya demam pada anak hanya berlangsung selama tiga hari dengan tanpa atau sedikit sekali dijumpai perdarahan maupun syok.
Walupun gejala-gejala penyakit Chikungunya hampir mirip dengan demam berdarah bahkan memiliki vektor penyebar penyakit yang sama yaitu nyamuk Aedes aegypti, tidak serta merta menjadikan penyakit ini memiliki sifat yang mematikan seperti halnya demam berdarah. Bedanya dengan demam berdarah adalah pada Chikungunya, virus menyerang sendi dan tulang, tidak ada perdarahan hebat, renjatan (shock) maupun kematian. Sedangkan pada demam berdarah virus menyerang pembuluh darah sehingga akan terjadi pendarahan hebat dan dapat menyebabkan kematian. Dengan istirahat cukup, obat demam, kompres, serta antisipasi terhadap kejang demam, penyakit Chikungunya biasanya sembuh sendiri dalam tujuh hari.

2.4 PENYEBARAN PENYAKIT CHIKUNGUNYA
Penyebaran penyakit Chikungunya dilakukan melalui gigitan nyamuk yang mengandung virus Chikungunya dari spesies Aedes sp. antara lain Aedes aegypti, Aedes albopictus, Aedes africanus, Aedes luteocephalus, Aedes opok, Aedes furciper, Aedes taylori,dan Aedes cordelierri. Namun di Indonesia, nyamuk yang paling sering menularkan penyakit Chikungunya adalah nyamuk dari spesies Aedes aegypti.
Nyamuk Aedes aegypti dewasa memiliki ukuran sedang dengan tubuh berwarna hitam kecoklatan. Tubuh dan tungkainya ditutupi sisik dengan gari-garis putih keperakan. Di bagian dorsal tubuhnya tampak dua garis melengkung vertikal di bagian kiri dan kanan yang menjadi ciri dari spesies ini. Ukuran dan warna nyamuk jenis ini kerap berbeda antar populasi, tergantung dari kondisi lingkungan dan nutrisi yang diperoleh nyamuk selama perkembangan. Nyamuk jantan dan betina tidak memiliki perbedaan dalam hal ukuran, nyamuk jantan yang umumnya lebih kecil dari betina dan terdapatnya rambut-rambut tebal pada antena nyamuk jantan. Aedes aegypti bersifat diurnal atau aktif pada pagi hingga siang hari. Penularan penyakit Chikungunya dilakukan oleh nyamuk betina karena hanya nyamuk betina yang mengisap darah. Hal itu dilakukannya untuk memperoleh asupan protein yang diperlukannya untuk memproduksi telur. Nyamuk jantan tidak membutuhkan darah, dan memperoleh energi dari nektar bunga. Jenis ini menyenangi area yang gelap dan benda-benda berwarna hitam atau merah.
Infeksi virus Chikungunya dalam tubuh nyamuk dapat mengakibatkan perubahan perilaku yang mengarah pada peningkatan “kompetensi vektor”, yaitu kemampuan nyamuk menyebarkan virus. Infeksi virus dapat mengakibatkan nyamuk kurang handal dalam mengisap darah, berulang kali menusukkan proboscis-nya, namun tidak berhasil mengisap darah sehingga nyamuk berpindah dari satu orang ke orang lain. Akibatnya, resiko penularan virus Chikungunya menjadi semakin besar.
Nyamuk Aedes aegypti umumnya memiliki habitat di lingkungan perumahan, di mana terdapat banyak genangan air bersih dalam bak mandi ataupun tempayan. Oleh karena itu, jenis ini bersifat urban, bertolak belakang dengan Aedes albopictus yang cenderung berada di daerah hutan berpohon rimbun (sylvan areas).
Penyakit Chikungunya memiliki gelombang epidemi 20 tahunan. Hal ini terjadi terkait perubahan iklim dan cuaca. Selain itu juga, karena antibodi yang timbul dari penyakit ini membuat penderita kebal terhadap serangan virus selanjutnya. Oleh karena itu, perlu waktu panjang bagi penyakit ini untuk merebak kembali.

2.5 PENCEGAHAN & PENANGGULANGAN PENYAKIT CHIKUNGUNYA
           
2.5.1 PENCEGAHAN PENYAKIT CHIKUNGUNYA
Tak ada vaksin maupun obat khusus untuk penyakit Chikungunya. Sehingga dalam kehidupan sehari-hari perlu mengupayakan hidup sehat dan bersih untuk pencegahannya. Mengingat vektor penyebar penyakit Chikungunya adalah nyamuk Aedes aegypti yang senang hidup dan berkembang biak di genangan air bersih seperti bak mandi, vas bunga, dan juga kaleng atau botol bekas yang menampung air bersih maka satu-satunya cara menghindari penyakit ini adalah membasmi nyamuk pembawa virus tersebut dengan  cara “3M” yaitu menguras tempat penampungan air bersih, bak mandi, vas bunga dan sebagainya, paling tidak seminggu sekali, mengingat nyamuk tersebut berkembang biak dari telur sampai menjadi dewasa dalam kurun waktu 7-10 hari, menutup tempat penampungan air sehingga tidak ada nyamuk yang memiliki akses ke tempat itu untuk bertelur, dan mengubur barang bekas sehingga tidak dapat menampung air hujan yang sering dijadikan nyamuk untuk tempat bertelur. Selain itu, nyamuk ini juga senang hidup di benda-benda yang menggantung seperti baju-baju yang ada di belakang pintu kamar. Selain itu, nyamuk ini juga menyenangi tempat yang gelap dan pengap. Dengan demikian, pintu dan jendela rumah sebaiknya dibuka setiap hari, mulai pagi hari sampai sore, agar udara segar dan sinar matahari dapat masuk, sehingga terjadi pertukaran udara dan pencahayaan yang sehat. Dengan demikian, tercipta lingkungan yang tidak ideal bagi nyamuk tersebut. Penggunaan insektisida ataupun pengasapan (fogging) tidak dianjurkan, karena sifatnya yang tidak spesifik sehingga akan membunuh berbagai jenis serangga lain yang bermanfaat secara ekologis. Penggunaan insektisida juga akhirnya memunculkan masalah resistensi serangga sehingga mempersulit penanganan di kemudian hari.
Untuk pencegahan yang paling efektif adalah dengan mengusahakan sebisa mungkin tidak digigit oleh nyamuk pembawa penyakit Chikungunya. Hal tersebut bisa dilakukan misalnya dengan  tidur menggunakan kelambu, menggunakan baju berlengan panjang terutamanya ketika berada di luar rumah, memasang kawat penghadang nyamuk pada ventilasi rumah, dan menggunakan krim anti nyamuk pada kulit.

2.5.2 PENANGGULANGAN  PENYAKIT CHIKUNGUNYA
Bila sudah terkena penyakit Chikungunya sebisa mungkin tidak panik, sebab penyakit ini tidak sampai menyebabkan kematian. Ngilu pada persendian itu tidak menyebabkan kelumpuhan. Penderita bisa menggerakkan tubuhnya seperti sedia kala. Cukup minum obat penurun panas dan penghilang rasa sakit. Virus ini termasuk self limiting disease atau hilang dengan sendirinya. Namun, rasa nyeri masih tertinggal dalam hitungan minggu bahkan sampai bulanan. Jika penyakit ini semakin parah segera berobat ke Dokter. Biasanya Dokter hanya memberikan obat penghilang rasa sakit dan demam atau golongan obat yang dikenal dengan obat-obat flu serta vitamin untuk penguat daya tahan tubuh.
Selain vitamin, makanan yang mengandung cukup banyak protein dan karbohidrat juga meningkatkan daya tahan tubuh. Daya tahan tubuh yang bagus dan istirahat cukup bisa membuat rasa ngilu pada persendian cepat hilang. Untuk itu, penderita juga sangat dianjurkan makan makanan yang bergizi, cukup karbohidrat dan terutama protein serta minum sebanyak mungkin (minum banyak air putih disarankan untuk menghilangkan gejala demam). Memperbanyak mengkonsumsi buah-buahan segar. Sebaiknya minum jus buah segar. Setelah lewat lima hari, demam akan berangsur-angsur reda, rasa ngilu maupun nyeri pada persendian dan otot berkurang, dan penderitanya akan sembuh seperti semula.
Penyakit ini sulit menyerang penderita yang sama untuk kedua kalinya. Tubuh penderita akan membentuk antibodi yang akan membuat mereka kebal terhadap wabah penyakit ini di kemudian hari. Dengan demikian, kecil kemungkinan bagi mereka untuk kena lagi.

BAB III
PENUTUP

3.1 SIMPULAN
            Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan sebagai berikut :
  1. Penyakit Chikungunya pertama kali ditemukan di Tanzania, Afrika pada tahun 1952. Sekitar 200-300 tahun lalu virus chikungunya merupakan virus pada hewan primata di tengah hutan atau savana di Afrika. Satwa primata yang dinilai sebagai pelestari virus adalah bangsa baboon (Papio sp.) dan Cercopithecus sp. Di Indonesia Demam Chikungunya dilaporkan pertama kali di Samarinda pada tahun 1973.
  2. Penyakit Chikungunya disebabkan oleh sejenis virus yang disebut virus Chikungunya. Virus ini masuk famili Togaviridae, genus Alphavirus. Virus ini dipindahkan dari satu penderita ke penderita lain melalui nyamuk, antara lain Aedes aegypti.
  3. Gejala utama penyakit Chikungunya adalah tubuh terasa demam diikuti dengan linu di persendian. Satu gejala yang khas adalah timbulnya rasa pegal-pegal, ngilu, juga timbul rasa sakit pada tulang-tulang dan timbul bintik-bintik kemerahan pada kulit.
  4. Penyebaran penyakit Chikungunya dilakukan melalui gigitan nyamuk yang membawa virus Chikungunya dari spesies Aedes sp. antara lain Aedes aegypti, Aedes albopictus, Aedes africanus, Aedes luteocephalus, Aedes opok, Aedes furciper, Aedes taylori,dan Aedes cordelierri. Di Indonesia, nyamuk yang paling sering menularkan penyakit Chikungunya adalah nyamuk dari spesies Aedes aegypti.
  5. Pencegahan penyakit Chikungunya dilakukan dengan cara “3M” yaitu menguras tempat penampungan air bersih, menutup tempat penampungan air, dan mengubur barang bekas yang dapat menampung air. Untuk pencegahan yang lebih efektif adalah dengan mengusahakan sebisa mungkin tidak digigit nyamuk. Penanggulangannya adalah meminum obat penurun panas dan penghilang rasa sakit dan yang terpenting adalah cukup istirahat, minum air putih yang banyak dan memakan asupan bergizi serta pergi ke Dokter.


3.2 SARAN
            Diharapkan pemerintah lebih gencar memberikan sosialisasi mengenai penyakit Chikungunya. Yang seperti kita ketahui, masyarakat masih benyak yang belum mengetahui apa yang dimaksud dengan penyakit Chikungunya, gejala, penyebab, dan cara pencegahan serta penanggulangannya. Sebagian besar masyarakat belum mampu membedakan antara penyakit Chikungunya dengan demam berdarah. Padahal kedua penyakit itu berbeda. Sehingga masyarakat panik dan beranggapan penyakit Chikungunya mematikan seperti halnya demam berdarah. Walaupun penyakit ini tidak mematikan seperti demam berdarah  dan bisa sembuh dengan sendirinya pemerintah dan masyarakat hendaknya tidak menyepelekan penyakit ini.

DAFTAR PUSTAKA


1 komentar: