Saturday, 14 January 2012

GUTASI


    I.       NAMA PERCOBAAN
Pengeluaran Air Melalui Gutasi Pada Tanaman Talas

   II.       TUJUAN
Untuk Mengetahui Proses Pengeluaran Air Dengan Cara Gutasi Akibat Dari Adanya Tekanan Akar Dan Penyerapan Air Yang Berlebihan

 III.       ALAT DAN BAHAN
a.      Alat
-       Gunting
-       Streples
-       Kamera
-       Gelas ukur

b.      Bahan
-       Plastik ukuran 1Kg.
-       Tanaman talas
-       Kertas lakmus

 IV.       PROSEDUR KERJA
1.    Menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan dalam kegiatan ini
2.    Memasangkan plastik pada daun talas pada waktu sore hari sekitas jam 18.00 Wita
3.    Menyiram tanaman talas
4.    Melakukan pengamatan dan mencatat data hasil pengamatan keesokan harinya pada jam 06.00 Wita

  V.       HASIL
·           Volume yang diperoleh      : 1.5 ml
·           pH                                       : 6 – 7
·           Warna                                 : Tak berwarna
·           Rasa                                   : Hambar
·           Kekeruhan                          : Tidak ada (bening)

 VI.       PEMBAHASAN
Gutasi merupakan pengeluaran air secara menetes melalui hidatoda atau emisaria pada tepi daun akibat adanya tekanan akar dan penyerapan air yang tinggi tanpa diimbangi oleh respirasi yang sepandan sehingga tekanan hidrostatik pada xylem sangat tinggi dan air akan terdorong keluar sel.
Tanaman melakukan gutasi apabila absorbsi yang dilakukan cukup tinggi dan tumbuhan tersebut tidak melakukan transpirasi atau melakukan transpirasi yang rendah sehingga tanaman akan kelebihan air, untuk mengatasi kelebihan air tersebut maka tanaman melakukan gutasi sehingga sel tumbuhan tersebut tidak pecah atau lisis akibat dari kelebihan air.
Dari hasil pengamatan dapat dilihat bahwa air gutasi yang dihasilkan oleh tanaman talas memiliki pH 6-7 karena setelah diuji dengan kertas lakmus ternyata menunjukkan perubahan warna sama dengan sampel yang menunjukkan pH antara 6 dan 7. Air gutasi yang didapatkan tidak berwarna, rasanya hambar, dan tidak keruh (bening).
Adapun gambar hasil pengamatan adalah seperti di bawah ini.
Gambar 01. Daun talas sebelum terjadi gutasi
Gambar 02. Gutasi pada pinggiran daun talas.

Gambar 03. Gutasi di berbagai pinggiran daun
Gambar 04. pH air gutasi dari daun talas.

VII.       SIMPULAN
1.   Gutasi merupakan pengeluaran air secara menetes melalui hidatoda atau emisaria pada tepi daun akibat adanya tekanan akar dan penyerapan air yang tinggi tanpa diimbangi oleh respirasi yang sepandan sehingga tekanan hidrostatik pada xylem sangat tinggi dan air akan terdorong keluar sel.
2.   Tanaman melakukan gutasi apabila absorbsi yang dilakukan cukup tinggi dan tumbuhan tersebut tidak melakukan transpirasi
3.   Gutasi terjadi disepanjang pinggirajn daun talas
4.   Volume yang diperoleh adalah 1.5 ml, pH berkisar antara 6 – 7, tak berwarna, rasa hambar, dan tidak keruh (bening).

CHIKUNGUNYA


BAB I
PENDAHULUAN


1.1 LATAR BELAKANG
            Chikungunya merupakan sejenis demam yang disebabkan oleh virus yang disebarkan oleh nyamuk dari spesies Aedes aegypti. Kata Chikungunya berasal dari bahasa Swahili (Tanzania) yang berarti “melengkung ke atas” dimana yang dimaksud adalah tubuh yang membungkuk akibat gejala-gejala arthritis penyakit tersebut.
Gejala penyakit ini adalah demam mendadak  mencapai 39o C. Adanya bintik-bintik pada kulit, nyeri pada persendian terutama sendi di lutut, pergelangan, jari kaki dan tangan serta tulang belakang.
Penyakit ini memang kurang diketahui oleh masyarakat. Karena penyakit ini memiliki ciri-ciri yang mirip dengan demam berdarah. Tetapi yang membedakan adalah  penyakit Chikungunya tidak mematikan seperti halnya dengan demam berdarah. Karena penyakit ini bersifat Self Limiting Disease yang berarti dapat sembuh dengan sendirinya.
Seperti halnya dengan demam berdarah, obat terhadap virus penyebab penyakit Chikungunya belum ada begitu pula dengan vaksinnya. Oleh karena itu, penulis membahas penyakit Chikungunya ini secara lebih mendalam dengan harapan pembaca tidak menyepelekan penyakit ini walaupun penyakit Chikungunya bisa sembuh dengan sendirinya dan tidak bersifat mematikan. Tetapi sebaliknya, kita harus lebih berhati-hati dan waspada dengan cara memahami pencegahan dan  gejala-gejala penyakit Chikungunya tersebut agar tidak mengganggu aktivitas nantinya.

1.2 TUJUAN
            Dari latar belakang di atas adapun tujuan yang ingin dicapai adalah
1.      Untuk mengetahui sejarah penyakit Chikungunya.
2.      Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan penyakit Chikungunya dan penyebabnya.
3.      Untuk mengetahui gejala-gejala penyakit Chikungunya.
4.      Untuk mengetahui cara penyebaran penyakit Chikungunya.
5.      Untuk mengetahui pencegahan dan penanggulangan penyakit Chikungunya.
1.3 RUMUSAN MASALAH
            Berdasarkan latar belakang dan tujuan di atas, dapat kami rumuskan beberapa masalah sebagai berikut :
1.      Bagaimanakah sejarah penyakit Chikungunya tersebut?
2.      Apa yang dimaksud dengan penyakit Chikungunya dan apa penyebabnya?
3.      Bagaimanakah gejala-gejala penyakit Chikungunya?
4.      Bagaimanakah penyebaran penyakit Chikungunya tersebut?
5.      Bagaimanakah pencegahan dan penanggulangan penyakit Chikungunya?


BAB II
PEMBAHASAN


2.1 SEJARAH PENYAKIT CHIKUNGUNYA
Chikungunya adalah sejenis demam virus yang disebabkan alphavirus yang disebarkan oleh gigitan nyamuk dari spesies Aedes aegypti. Sekitar 200-300 tahun lalu virus chikungunya (CHIK) merupakan virus pada hewan primata di tengah hutan atau savana di Afrika. Satwa primata yang dinilai sebagai pelestari virus adalah bangsa baboon (Papio sp.) dan Cercopithecus sp.
Pembuktian ilmiah yang meliputi isolasi dan identifikasi virus Chikungunya baru berhasil dilakukan ketika penyakit ini pertama kali dicatat di Tanzania, Afrika pada tahun 1952. Tidak heran bila namanya pun berasal dari bahasa setempat (bahasa Swahili), yang artinya adalah “yang berubah bentuk atau bungkuk”. Postur penderitanya memang kebanyakan membungkuk akibat nyeri hebat di persendian tangan dan kaki. Kemudian penyakit Chikungunya ditemukan lagi di Uganda pada tahun 1963 (http://WikipediaIndonesia.com).
Di Indonesia Demam Chikungunya dilaporkan pertama kali di Samarinda pada tahun 1973. Kemudian berjangkit di Kuala Tunkal, Jambi, tahun 1980. Pada tahun 1983 merebak di Martapura, Ternate dan Yogyakarta. Setelah vakum hampir 20 tahun, awal tahun 2001 kejadian luar biasa ( KLB ) demam Chikungunya terjadi di Muara Enim, Sumatera Selatan dan Aceh (http://www.info@infeksi.com). Disusul Bogor pada bulan Oktober tahun 2001 penderita chikungunya banyak ditemukan di Tanah Sareal. Kemudian pada bulan Juli 2005, puluhan warga RT 20/09 Kampung Pintu Kapuk, Desa Bojong Renged, Teluk Naga, Kabupaten Tanggerang, juga terserang penyakit ini. Demam Chikungunya ditemukan lagi di Bekasi (Jawa Barat), Purworejo dan Klaten (Jawa Tengah) tahun 2002 (http://www.InfoAktual.com).

2.2 PENYAKIT CHIKUNGUNYA DAN PENYEBABNYA
Penyakit Chikungunya disebabkan oleh sejenis virus yang disebut virus Chikungunya. Virus ini masuk famili Togaviridae, genus Alphavirus. Virus ini tergolong jenis virus RNA dan dipindahkan dari satu penderita ke penderita lain melalui gigitan nyamuk, antara lain Aedes aegypti, Aedes albopictus, Aedes africanus, Aedes luteocephalus, Aedes opok, Aedes furciper, Aedes taylori, dan  Aedes cordelierri. Virus ini akan berkembang biak di dalam tubuh manusia. Virus menyerang semua usia, baik anak-anak maupun dewasa di daerah endemis. Secara mendadak penderita akan mengalami demam tinggi selama lima hari, sehingga dikenal pula istilah demam lima hari.



Masa inkubasi dari demam Chikungunya 2 sampai 4 hari. Penyakit yang muncul akan berlangsung 3 sampai 10 hari. Virus ini termasuk self limiting disease alias hilang dengan sendirinya. Namun, rasa nyeri masih tertinggal dalam hitungan minggu sampai bulan. Sewaktu virus berkembang biak di dalam darah, penderita merasa nyeri pada tulang-tulangnya terutama di seputar persendian sehingga tidak berani menggerakkan anggota tubuh. Namun, bukan berarti terjadi kelumpuhan.
Penyakit Chikungunya sulit menyerang penderita yang sudah pernah terjangkit penyakit Chikungunya sebelumnya. Tubuh penderita akan membentuk antibodi yang akan membuat mereka kebal terhadap wabah penyakit ini di kemudian hari. Dengan demikian, kecil kemungkinan bagi mereka untuk terkena penyakit Chikungunya lagi.

2.3 GEJALA PENYAKIT CHIKUNGUNYA
            Gejala utama penyakit Chikungunya adalah tiba-tiba tubuh terasa demam (39oC) diikuti dengan linu di persendian. Satu gejala yang khas adalah timbulnya rasa pegal-pegal, ngilu, juga timbul rasa sakit pada tulang-tulang, sehingga ada yang menamai penyakit ini  sebagai demam tulang atau flu tulang. Penyakit Chikungunya menyerang tidak mengenal usia, baik orang dewasa, maupun anak-anak. Pada anak kecil dimulai dengan demam mendadak, kulit kemerahan. Ruam-ruam merah (kumpulan bintik-bintik kemerahan)  itu muncul setelah 3-5 hari. Mata biasanya merah disertai tanda-tanda seperti flu. Sering dijumpai anak kejang demam. Pada anak yang lebih besar, demam biasanya diikuti rasa sakit pada otot dan sendi, serta terjadi pembesaran kelenjar getah bening. Pada orang dewasa, gejala nyeri sendi dan otot sangat dominan dan sampai menimbulkan kelumpuhan sementara karena rasa sakit bila berjalan. Kadang-kadang timbul rasa mual sampai muntah. Pada umumnya demam pada anak hanya berlangsung selama tiga hari dengan tanpa atau sedikit sekali dijumpai perdarahan maupun syok.
Walupun gejala-gejala penyakit Chikungunya hampir mirip dengan demam berdarah bahkan memiliki vektor penyebar penyakit yang sama yaitu nyamuk Aedes aegypti, tidak serta merta menjadikan penyakit ini memiliki sifat yang mematikan seperti halnya demam berdarah. Bedanya dengan demam berdarah adalah pada Chikungunya, virus menyerang sendi dan tulang, tidak ada perdarahan hebat, renjatan (shock) maupun kematian. Sedangkan pada demam berdarah virus menyerang pembuluh darah sehingga akan terjadi pendarahan hebat dan dapat menyebabkan kematian. Dengan istirahat cukup, obat demam, kompres, serta antisipasi terhadap kejang demam, penyakit Chikungunya biasanya sembuh sendiri dalam tujuh hari.

2.4 PENYEBARAN PENYAKIT CHIKUNGUNYA
Penyebaran penyakit Chikungunya dilakukan melalui gigitan nyamuk yang mengandung virus Chikungunya dari spesies Aedes sp. antara lain Aedes aegypti, Aedes albopictus, Aedes africanus, Aedes luteocephalus, Aedes opok, Aedes furciper, Aedes taylori,dan Aedes cordelierri. Namun di Indonesia, nyamuk yang paling sering menularkan penyakit Chikungunya adalah nyamuk dari spesies Aedes aegypti.
Nyamuk Aedes aegypti dewasa memiliki ukuran sedang dengan tubuh berwarna hitam kecoklatan. Tubuh dan tungkainya ditutupi sisik dengan gari-garis putih keperakan. Di bagian dorsal tubuhnya tampak dua garis melengkung vertikal di bagian kiri dan kanan yang menjadi ciri dari spesies ini. Ukuran dan warna nyamuk jenis ini kerap berbeda antar populasi, tergantung dari kondisi lingkungan dan nutrisi yang diperoleh nyamuk selama perkembangan. Nyamuk jantan dan betina tidak memiliki perbedaan dalam hal ukuran, nyamuk jantan yang umumnya lebih kecil dari betina dan terdapatnya rambut-rambut tebal pada antena nyamuk jantan. Aedes aegypti bersifat diurnal atau aktif pada pagi hingga siang hari. Penularan penyakit Chikungunya dilakukan oleh nyamuk betina karena hanya nyamuk betina yang mengisap darah. Hal itu dilakukannya untuk memperoleh asupan protein yang diperlukannya untuk memproduksi telur. Nyamuk jantan tidak membutuhkan darah, dan memperoleh energi dari nektar bunga. Jenis ini menyenangi area yang gelap dan benda-benda berwarna hitam atau merah.
Infeksi virus Chikungunya dalam tubuh nyamuk dapat mengakibatkan perubahan perilaku yang mengarah pada peningkatan “kompetensi vektor”, yaitu kemampuan nyamuk menyebarkan virus. Infeksi virus dapat mengakibatkan nyamuk kurang handal dalam mengisap darah, berulang kali menusukkan proboscis-nya, namun tidak berhasil mengisap darah sehingga nyamuk berpindah dari satu orang ke orang lain. Akibatnya, resiko penularan virus Chikungunya menjadi semakin besar.
Nyamuk Aedes aegypti umumnya memiliki habitat di lingkungan perumahan, di mana terdapat banyak genangan air bersih dalam bak mandi ataupun tempayan. Oleh karena itu, jenis ini bersifat urban, bertolak belakang dengan Aedes albopictus yang cenderung berada di daerah hutan berpohon rimbun (sylvan areas).
Penyakit Chikungunya memiliki gelombang epidemi 20 tahunan. Hal ini terjadi terkait perubahan iklim dan cuaca. Selain itu juga, karena antibodi yang timbul dari penyakit ini membuat penderita kebal terhadap serangan virus selanjutnya. Oleh karena itu, perlu waktu panjang bagi penyakit ini untuk merebak kembali.

2.5 PENCEGAHAN & PENANGGULANGAN PENYAKIT CHIKUNGUNYA
           
2.5.1 PENCEGAHAN PENYAKIT CHIKUNGUNYA
Tak ada vaksin maupun obat khusus untuk penyakit Chikungunya. Sehingga dalam kehidupan sehari-hari perlu mengupayakan hidup sehat dan bersih untuk pencegahannya. Mengingat vektor penyebar penyakit Chikungunya adalah nyamuk Aedes aegypti yang senang hidup dan berkembang biak di genangan air bersih seperti bak mandi, vas bunga, dan juga kaleng atau botol bekas yang menampung air bersih maka satu-satunya cara menghindari penyakit ini adalah membasmi nyamuk pembawa virus tersebut dengan  cara “3M” yaitu menguras tempat penampungan air bersih, bak mandi, vas bunga dan sebagainya, paling tidak seminggu sekali, mengingat nyamuk tersebut berkembang biak dari telur sampai menjadi dewasa dalam kurun waktu 7-10 hari, menutup tempat penampungan air sehingga tidak ada nyamuk yang memiliki akses ke tempat itu untuk bertelur, dan mengubur barang bekas sehingga tidak dapat menampung air hujan yang sering dijadikan nyamuk untuk tempat bertelur. Selain itu, nyamuk ini juga senang hidup di benda-benda yang menggantung seperti baju-baju yang ada di belakang pintu kamar. Selain itu, nyamuk ini juga menyenangi tempat yang gelap dan pengap. Dengan demikian, pintu dan jendela rumah sebaiknya dibuka setiap hari, mulai pagi hari sampai sore, agar udara segar dan sinar matahari dapat masuk, sehingga terjadi pertukaran udara dan pencahayaan yang sehat. Dengan demikian, tercipta lingkungan yang tidak ideal bagi nyamuk tersebut. Penggunaan insektisida ataupun pengasapan (fogging) tidak dianjurkan, karena sifatnya yang tidak spesifik sehingga akan membunuh berbagai jenis serangga lain yang bermanfaat secara ekologis. Penggunaan insektisida juga akhirnya memunculkan masalah resistensi serangga sehingga mempersulit penanganan di kemudian hari.
Untuk pencegahan yang paling efektif adalah dengan mengusahakan sebisa mungkin tidak digigit oleh nyamuk pembawa penyakit Chikungunya. Hal tersebut bisa dilakukan misalnya dengan  tidur menggunakan kelambu, menggunakan baju berlengan panjang terutamanya ketika berada di luar rumah, memasang kawat penghadang nyamuk pada ventilasi rumah, dan menggunakan krim anti nyamuk pada kulit.

2.5.2 PENANGGULANGAN  PENYAKIT CHIKUNGUNYA
Bila sudah terkena penyakit Chikungunya sebisa mungkin tidak panik, sebab penyakit ini tidak sampai menyebabkan kematian. Ngilu pada persendian itu tidak menyebabkan kelumpuhan. Penderita bisa menggerakkan tubuhnya seperti sedia kala. Cukup minum obat penurun panas dan penghilang rasa sakit. Virus ini termasuk self limiting disease atau hilang dengan sendirinya. Namun, rasa nyeri masih tertinggal dalam hitungan minggu bahkan sampai bulanan. Jika penyakit ini semakin parah segera berobat ke Dokter. Biasanya Dokter hanya memberikan obat penghilang rasa sakit dan demam atau golongan obat yang dikenal dengan obat-obat flu serta vitamin untuk penguat daya tahan tubuh.
Selain vitamin, makanan yang mengandung cukup banyak protein dan karbohidrat juga meningkatkan daya tahan tubuh. Daya tahan tubuh yang bagus dan istirahat cukup bisa membuat rasa ngilu pada persendian cepat hilang. Untuk itu, penderita juga sangat dianjurkan makan makanan yang bergizi, cukup karbohidrat dan terutama protein serta minum sebanyak mungkin (minum banyak air putih disarankan untuk menghilangkan gejala demam). Memperbanyak mengkonsumsi buah-buahan segar. Sebaiknya minum jus buah segar. Setelah lewat lima hari, demam akan berangsur-angsur reda, rasa ngilu maupun nyeri pada persendian dan otot berkurang, dan penderitanya akan sembuh seperti semula.
Penyakit ini sulit menyerang penderita yang sama untuk kedua kalinya. Tubuh penderita akan membentuk antibodi yang akan membuat mereka kebal terhadap wabah penyakit ini di kemudian hari. Dengan demikian, kecil kemungkinan bagi mereka untuk kena lagi.

BAB III
PENUTUP

3.1 SIMPULAN
            Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan sebagai berikut :
  1. Penyakit Chikungunya pertama kali ditemukan di Tanzania, Afrika pada tahun 1952. Sekitar 200-300 tahun lalu virus chikungunya merupakan virus pada hewan primata di tengah hutan atau savana di Afrika. Satwa primata yang dinilai sebagai pelestari virus adalah bangsa baboon (Papio sp.) dan Cercopithecus sp. Di Indonesia Demam Chikungunya dilaporkan pertama kali di Samarinda pada tahun 1973.
  2. Penyakit Chikungunya disebabkan oleh sejenis virus yang disebut virus Chikungunya. Virus ini masuk famili Togaviridae, genus Alphavirus. Virus ini dipindahkan dari satu penderita ke penderita lain melalui nyamuk, antara lain Aedes aegypti.
  3. Gejala utama penyakit Chikungunya adalah tubuh terasa demam diikuti dengan linu di persendian. Satu gejala yang khas adalah timbulnya rasa pegal-pegal, ngilu, juga timbul rasa sakit pada tulang-tulang dan timbul bintik-bintik kemerahan pada kulit.
  4. Penyebaran penyakit Chikungunya dilakukan melalui gigitan nyamuk yang membawa virus Chikungunya dari spesies Aedes sp. antara lain Aedes aegypti, Aedes albopictus, Aedes africanus, Aedes luteocephalus, Aedes opok, Aedes furciper, Aedes taylori,dan Aedes cordelierri. Di Indonesia, nyamuk yang paling sering menularkan penyakit Chikungunya adalah nyamuk dari spesies Aedes aegypti.
  5. Pencegahan penyakit Chikungunya dilakukan dengan cara “3M” yaitu menguras tempat penampungan air bersih, menutup tempat penampungan air, dan mengubur barang bekas yang dapat menampung air. Untuk pencegahan yang lebih efektif adalah dengan mengusahakan sebisa mungkin tidak digigit nyamuk. Penanggulangannya adalah meminum obat penurun panas dan penghilang rasa sakit dan yang terpenting adalah cukup istirahat, minum air putih yang banyak dan memakan asupan bergizi serta pergi ke Dokter.


3.2 SARAN
            Diharapkan pemerintah lebih gencar memberikan sosialisasi mengenai penyakit Chikungunya. Yang seperti kita ketahui, masyarakat masih benyak yang belum mengetahui apa yang dimaksud dengan penyakit Chikungunya, gejala, penyebab, dan cara pencegahan serta penanggulangannya. Sebagian besar masyarakat belum mampu membedakan antara penyakit Chikungunya dengan demam berdarah. Padahal kedua penyakit itu berbeda. Sehingga masyarakat panik dan beranggapan penyakit Chikungunya mematikan seperti halnya demam berdarah. Walaupun penyakit ini tidak mematikan seperti demam berdarah  dan bisa sembuh dengan sendirinya pemerintah dan masyarakat hendaknya tidak menyepelekan penyakit ini.

DAFTAR PUSTAKA


Friday, 13 January 2012

PRAKTIKUM FISTUM MEMBRAN DAN PERMEABILITASNYA


II. MEMBRAN DAN PERMEABILITASNYA

Kegiatan 1

I. Judul           : Permeabilitas Jaringan Hidup Terhadap Asam & Basa

II.  Tujuan
1.      Mempelajari permeabilitas jaringan hidup terhadap asam dan basa.
2.      Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi sifat dan permeabilitas membran jaringan hidup.

III. Alat dan Bahan
            3.1 Alat
1.      Pisau
2.      Kaca pengamatan                         
3.      Stopwatch
4.      Pinset
5.      Gelas beaker (80 ml)
6.      Pipet tetes
7.      Petridis
3.2 Bahan                  
1.      10 ml HCl (0,025 N)                    
2.      10 ml asam asetat (0,025 N)
3.      10 ml KOH (0,025 N)
4.      10 ml NH4OH (0,025 N)                         
5.      Air suling
6.      Daun Rhoeo discolor

IV.  Langkah Kerja
1.      Menyiapkan dan membersihkan alat dan bahan.
2.      Menyiapkan 10 lapisan epidermis bagian bawah Rhoeo discolor.
3.      Meletakkan lapisan epidermis tersebut dalam air suling.
4.      Mengambil 5 petridis kemudian meneteskan secara terpisah larutan sebagai berikut :
-   Air suling
-   HCl (0,025 N)
-   Asam asetat (0,025 N)
-   KOH (0,025 N)
-   NH4OH (0,025 N)
5.      Meletakkan 2 potong jaringan epidermis kedalam air suling, 2 potongan kedalam KOH, dan 6 potongan dalam NH4OH.
6.      Mencatat waktu yang diperlukan sampai terjadi perubahan warna biru pada lapisan epidermis setelah diletakkan.
7.      Setelah lapisan epidermis dalam NH4OH berubah menjadi biru (seluruhnya / sebagian), memindahkan 4 diantaranya kedalam air suling.
8.      Memindahkan 2 diantaranya   dari air suling (Pada langkah 7) ke dalam asam asetat dan 2 lainnya ke dalam HCl.
9.      Mencatat waktu yang diperlukan sampai terjadi perubahan warna.
10.  Setelah perubahan warna selesai (Pada langkah 8), memindahkan lapisan epidermis tersebut dari asam asetat dan HCl ke dalam air suling kemudian kembali ke dalam NH4OH.
11.  Mencatat kembali waktu yang diperlukan sampai terjadi perubahan warna lagi.
12.  Mengulangi langkah kerja diatas beberapa kali dan menentukan waktu rerata yang diperlukan untuk terjadi perubahan warna dalam jaringan epidermis itu setelah beberapa kali pemindahan ke dalam asam basa.
13.  Membersihkan dan mengembalikan alat dan bahan ketempatnya.

V.  Hasil dan Pembahasan
5.1 Hasil
Perubahan warna biru pada lapisan epidermis Rhoeo discolor
NO.
PERLAKUAN
WAKTU RERATA
WARNA LAPISAN EPIDERMIS
SEBELUM
SESUDAH
1.
AIR SULING ® KOH
6,99 Detik
Ungu
Biru
2.
AIR SULING ® NH4OH
8,28 Detik
Ungu
Biru

Perubahan warna merah pada lapisan epidermis Rhoeo discolor
NO.
PERLAKUAN
WAKTU RERATA
WARNA LAPISAN EPIDERMIS
SEBELUM
SESUDAH
1.
NH4OH  ® AIR SULING ® ASAM ASETAT
12,73 Detik
Biru
Merah
2.
NH4OH  ® AIR SULING ® HCL
29,28 Detik
Biru
Merah

Perubahan warna biru pada lapisan epidermis Rhoeo discolor
NO.
PERLAKUAN
WAKTU RERATA
WARNA LAPISAN EPIDERMIS
SEBELUM
SESUDAH
1.
ASAM ASETAT ® AIR SULING ® NH4OH
12,73 Detik
Merah
Biru
2.
HCl ® AIR SULING ® NH4OH
29,28 Detik
Merah
Biru


5.2 Pembahasan
            Berdasarkan hasil pengamatan maka diperoleh data bahwa sel epidermis Rhoeo discolor mengalami perubahan warna yaitu dari warna ungu menjadi merah ketika dimasukkan ke dalam larutan asam (Asan Asetat dan HCl) dan berubah warna menjadi biru ketika dimasukkan ke dalam larutan basa (KOH dan NH4OH). Ini terjadi karena sel epidermis daun Rhoeo discolor mengandung zat warna antosianin. Antosianin adalah zat warna yang larut dalam cairan vakuola sel. Antosianin terdiri dari 3,5,7 – trihidroksi flavilium klorida dan bagian gula yang biasanya terikat pada gugus hidroksil pada C (karbon) nomor 3 dan mengandung komponen tambahan seperti asam organik dan logam (Fe, Al, dan Mg). Ketika lapisan sel epidermis daun Rhoeo discolor dicelupkan ke dalam larutan KOH dan NH4OH (yang mengandung gugus hirdroksil ) maka akan terjadi peningkatan gugus hidroksil sehingga warna sel epidermis daun Rhoeo discolor cenderung akan lebih biru. Hal ini terkait dengan adanya pengikatan gugus hidroksil (-OH) oleh sel epidermis Rhoeo discolor.  Sedangkan jika lapisan sel epidermis daun Rhoeo discolor dicelupkan ke dalam asam asetat (CH3COOH) dan HCl maka warna sel epidermis menjadi merah akibat adanya pengurangan gugus –OH.
            Kecepatan perubahan warna sel epidermis Rhoeo discolor dari ungu menjadi biru lebih cepat pada basa kuat (KOH) dibandingkan dengan basa lemah. Hal ini disebabkan karena basa kuat lebih mudah terionisasi. Sehingga proses pertukaran ion yang terjadi antara ion-ion pada antosianin dengan ion-ion yang terdapat pada larutan KOH lebih cepat. Selain itu, karena adannya peningkatan pH pada sel epidermis Rhoeo discolor sehingga mengakibatkan psudobasa yang terbentuk menjadi lebih banyak dan warna menjadi lemah. Sedangkan kecepatan perubahan warna sel epidermis Rhoeo discolor dari biru menjadi merah lebih cepat pada asam lemah (asam asetat) dibandingkan dengan pada asam kuat (HCl). Hal ini terjadi karena adanya penurunan pH yang mengakibatkan psudobasa yang terbentuk semakin sedikit sehingga warna menjadi cerah. Selain faktor-faktor diatas, kecepatan perubahan warna sel epidermis Rhoeo discolor baik pada larutan asam maupun basa juga dipengaruhi oleh ukuran tebal tipisnya lapisan sel epidermis Rhoeo discolor yang digunakan. Dimana makin tebal lapisan epidermis yang digunakan maka waktu yang diperlukan untuk berubah warna akan lebih lama dibandingkan dengan lapisan epidermis yang tipis.

Kendala-kendala :
*      Menentukan ukuran tebal dari lapisan epidermis bagian dalam Rhoeo discolor agar diperoleh tebal yang sama relatif sulit sehingga akan mempengaruhi waktu terjadinya reaksi.
*      Perubahan warna pada lapisan epidermis Rhoeo discolor kadang terlalu cepat sehingga sulit diamati.
*      Larutan yang digunakan saat praktikum cepat menguap sehingga perlu ditambahkan terus menerus selama praktikum. Hal ini mengakibatkan kinerja praktikum kurang efisien.
*      Kurangnya jumlah anggota kelompok praktikum membuat waktu yang dibutuhkan untuk melakukan kegiatan dalam praktikum relatif lama.


VI.  Simpulan  dan Saran
6.1 Simpulan
  1. Sel epidermis daun Rhoeo discolor bersifat permeabilitas terhadap larutan asam dan basa. Hal ini dapat dilihat dari adanya perubahan warna yaitu bila diletakkan pada larutan asam, sel epidermis akan berwarna merah dan bila diletakkan pada larutan basa, sel epidermis akan berwarna biru. Perubahan warna ini terjadi karena pada sel epidermis Rhoeo discolor mengandung zat warna antosianin yang dapat bereaksi terhadap larutan asam dan basa.
  2. Faktor-faktor yang mempengaruhi permeabilitas sel epidermis daun Rhoeo discolor yaitu kuat lemahnya asam dan basa yang digunakan dan peningkatan pH pada sel epidermis.

6.2 Saran
1.      Mengusahakan agar ukuran tebal dari lapisan epidermis bagian dalam Rhoeo discolor yang akan digunakan relatif sama.
2.      Mengusahakan lebih teliti dalam mengamati perubahan warna pada lapisan epidermis Rhoeo discolor.
3.      Mengusahakan menambah jumlah anggota kelompok praktikum agar waktu yang dibutuhkan untuk melakukan praktikum bisa lebih cepat.


VII.  Daftar Pustaka

Kimball, John W. 1983 . Biologi Edisi Kelima Jilid 1. Jakarta : Erlangga
Salesbury. 1995. Fisiologi Tumbuhan Jilid I. Bandung : ITB Bandung.
Sarna, Ketut dkk. 1998. Buku Ajar Fisiologi Tumbuhan. Singaraja : Program Studi Pendidikan Biologi Jurusan Pendidikan MIPA STKIP Singaraja.

Kegiatan 2

I.   Judul         : Permeabilatas Membran Terhadap Substansi Organik

II.  Tujuan
1.      Untuk mengetahui proses terjadinya plasmolisis dan deplasmolisis pada bawang merah.
2.      Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi plasmolisis dan deplasmolisis pada sel bawang merah.

III. Alat dan Bahan
3.1 Alat
1.      Stopwatch                                             
2.      Kaca objek                                            
3.      Mikroskop                                             
4.      Pisau                                                      
5.      Pinset                                                    
6.      Pipet tetes
3.2 Bahan
1.      Bawang merah (Allium ceva)
2.      Glukosa (1 M)               
3.      Metanol (1 M)
4.      Gliserol (1 M)
5.      Air suling
6.      Tisue      

IV.  Langkah Kerja
1.      Mempersiapkan alat dan bahan.
2.      Menyiapkan  lapisan epidermis bagian dalam Bawang merah (Allium cepa).
3.      Meletakkan lapisan epidermis tersebut dalam kaca objek.
4.      Menambahkan beberapa tetes gliserol ke dalam lapisan epidermis pada kaca objek.
5.      Menghitung waktu plasmolosis sel-sel epidermis dengan mengamatinya dibawah mikroskop. 
6.      Setalah plasmolisis terjadi, menambahkan beberapa tetes air suling pada sel-sel epidermis untuk mencuci gliserolnya.
7.      Mengamati sel-sel epidermis tersebut dibawah mikroskop dan mencatat waktu yang dibutuhkan untuk pulih kembali dari keadaan plasmolisis.
8.      Mengulangi langkah kerja diatas, namun dengan menggunakan substansi organik (1 M) lainya yaitu glukosa dan metanol.
9.      Mencatat waktu yang diperlulakan bagi sel-sel sampai pulih dari kondisi plasmolisis (deplasmolisis) pada setiap larutan yang digunakan. Waktu relatif bagi pemulihan sel dari kondisi plasmolisis akan memberikan indikasi secara kasar mengenai tingkat penetrasi substansi kedalam sel-sel. Juga mengindikasikan berat molekul setiap senyawa dan kelarutannya dalam air.

V.  Hasil dan Pembahasan
5.1 Hasil
Plasmolisis sel epidermis pada beberapa larutan
NO.
LARUTAN
WAKTU
1.
GLISEROL
1 Menit 35 Detik
2.
GLUKOSA
1 Menit 98 Detik
3.
METANOL
Tidak terjadi perubahan

Deplasmolisis sel epidermis pada beberapa larutan
NO.
PERLAKUAN
WAKTU
1.
GLISEROL + BEBERAPA TETES AIR SULING
44,03 Detik
2.
GLUKOSA + BEBERAPA TETES AIR SULING
33,72 Detik
3.
METANOL + BEBERAPA TETES AIR SULING
Tidak terjadi perubahan

5.2 Pembahasan
Berdasarkan hasil pengamatan didapatkan data bahwa sel epidermis bawang merah mengalami plasmolisis jika ditetesi larutan gliserol dan glukosa. Hal ini terjadi akibat penambahan gliserol dan glukosa yang menyebabkan kondisi diluar sel bawang merah hipertonis dibandingkan di dalam sel. Kondisi hipertonis di luar sel bawang merah menyebabkan air di dalam sel memiliki potensial yang lebih tinggi dibandingkan di luar sel. Hal ini berakibat air yang ada di dalam sel bawang merah keluar dan membran sel menjadi mengkerut kemudian lepas dari dinding sel, isi sel menjadi berkurang (plasmolisis).
Plasmolisis terjadi lebih cepat pada sel bawang merah yang ditetesi larutan gliserol  dibangdingkan dengan larutan glukosa. Karena gliserol memiliki molekul yang lebih kecil (atom C berjumlah 3) dengan rumus kimia HOCH(CH2OH)2. Sedangkan glukosa melokulnya lebih besar (atom C berjumlah 6) dengan rumus kimia C6H12O6.
Saat sel bawang merah didiamkan (tidak diberi perlakuan lain) ternyata sel bawang merah yang semula plasmolisis tidak kembali lagi kebentuk semula (deplasmolisis). Hal ini disebabkan karena kondisi di dalam sel masih hipotonis dibandingkan dengan di luar sel. Akibat konsentrasi gliserol dan glukosa tinggi. Dengan demikian menyebabkan air tetap bergerak dari dalam sel ke luar sel. Deplasmolisis ini dapat terjadi apabila konsentrasi gliserol dan glukosa tidak terlalu tinggi. Hal ini dikarenakan ketika air bergerak ke luar sel untuk membuat keadaan didalam dan di luar sel isotonis (seimbang) menyebabkan suatu kondisi yang terbalik dimana semula kondisi diluar sel lebih hipertonis berubah menjadi hipotonis (karena penambahan air oleh sel) dibangdingkan di dalam sel. Sehingga dengan demikian, air dari luar sel akan masuk kembali ke dalam sel akibat kondisi didalam sel yang hipertonis (deplasmolisis terjadi).
Pada perlakuan dimana sel bawang merah yang mengalami plasmolisis akibat ditetesi dengan gliserol dan glukosa ketika ditetesi air suling maka terjadi peristiwa deplasmolisis. Karena penetesan air suling menyebabkan menurunnya konsentrasi gliserol dan glukosa sehingga kondisi diluar sel lebih hipotonis dibandingkan dengan di dalam sel bawang merah. Hal ini menyebabkan air diluar sel masuk ke dalam sel, dan sel akan kembali kekeadaan semula (deplasmolisis). Deplasmolisis dapat terjadi jika sel bawang merah tersebut tidak mengalami plasmolisis sempurna artinya masih ada bagian-bagian tertentu dari membran plasma yang masih menempel pada dinding sel (membran sel tidak lepas seluruhnya dari dinding sel).
Waktu deplasmolisis pada sel mengandung glukosa lebih cepat dibandingkan dengan sel yang mengandung gliserol. Hal ini dikarenakan glukosa lebih cepat larut ketika ditetesi air suling dibandingkan dengan gliserol.
Pada sel bawang merah yang ditetesi dengan metanol, sel bawang merah tidak mengalami perubahan (tidak mengalami plasmolisis). Hal ini disebabkan karena membran sel salah satu penyusunya adalah lipid. Lipid tersebut memiliki sifat mudah larut dalam alkohol (metanol merupakan salah satu jenis alkohol). Akibatnya ketika methanol diteteskan pada sel bawang merah, methanol ini mudah keluar masuk melewati membran sehingga keadaan di luar maupun di dalam sel  selalu dalam keadaan isotonis maka dengan demikian tidak terjadi plasmolisis. Sama halnya ketika sel bawang merah ditetesi dengan air suling, sel tidak mengalami perubahan karena kondisi di luar maupun di dalam sel sama (isotonis)

Kendala-kendala :
*      Sulitnya membuat preparat yang memiliki tebal irisan yang tepat dan relatif sama ukurannya antara preparat satu dengan yang lainnya. Hal ini mengakibatkan terganggunya kinerja pengamatan pada mikroskop karena irisan yang tebal.
*      Indikator telah terjadinya plasmolisis dan deplasmolisis kurang jelas sehingga sulit diamati.
*      Dibutuhkan waktu yang relatif lama untuk kegiatan deplasmolisis. Karena terbatasnya waktu praktikum maka kegiatan deplasmolisis tersebut ditiadakan.
*      Alat yang tersedia kurang memadai sehingga ada satu praktikum yang batal dilakukan.

VI.  Simpulan  dan Saran
6.1 Simpulan
1.      Plasmolisis dapat terjadi jika kondisi di dalam sel hipotonis terhadap kondisi di luar sel dan deplasmolisis akan terjadi bila kondisi di dalam sel hipertonis terhadap kondisi di luar sel dimana plasmolisis yang terjadi tidak boleh sempurna.
2.      Faktor yang mempengaruhi plasmolisis dan deplasmolisis adalah terjadinya perbedaan viskositas larutan didalam sel dengan diluar sel tersebut
6.2 Saran
1.      Mengusahakan agar lapisan epidermis bagian dalam Rhoeo discolor yang akan digunakan setipis mungkin untuk lebih mudah mengamati.
2.      Mengusahakan lebih teliti dalam mengamati perubahan bentuk sel Rhoeo discolor.
VII.  Daftar Pustaka
Kimball, John W. 1983 . Biologi Edisi Kelima Jilid 1. Jakarta : Erlangga
Pratiwi, Rinie dkk. 2003. Buku Siswa Biologi Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Kelas 2 Edisi Kesatu. Jakarta : Proyek Peningkatan Mutu SLTP.
Sarna, Ketut dkk. 1998. Buku Ajar Fisiologi Tumbuhan. Singaraja : Program Studi Pendidikan Biologi Jurusan Pendidikan MIPA STKIP Singaraja.

Hasil / Kesimpulan
            Untuk setiap langkah kerja, buat dan tampilkan tabel yang tepat (atau daftar pengamatan) untuk menggambarkan hasilnya. Interpretasikan hasilnya menurut petunjuk berikut ini :
1.      Apa penjelasnya mengenai sel tanaman normalnya tidak pecah ketika ditempatkan dalam air murni?
2.      Apa pengaruh asam dan basa pada warna antosianin?
3.      Apa itu antosianin (secara kimiawi) dan dimana lokasinya dalam sel?
4.      Jelaskan apa perbedaan yang teramati sehubungan dengan pemakaian asam dan basa!
5.      Kemukan alasanya menurut pendapat anda yang mungkin bisa menjelaskan tentang pengaruh ion-ion tertentu terhadap wujud membran sel. Terkait dengan perubahan permeabilitasnya.
6.      Mengapa sel-sel yang mengalami deplasmolisis dalam gliserol mendadak pecah ketika ditempatkan dalam air murni?
7.      Sifat kimia dan fisika yang bagaimana pada senyawa organik yang memfasilitasi penetrasinya ke dalam sel-sel tanaman? 

Jawaban pertanyaan
1)      Bila suatu sel tanaman di tempatkan dalam air murni maka potensial air murni akan lebih besar di bandingkan potensial air larutan dalam sel. Ini mengakibatkan molekul air akan melintasi membran dari luar ke dalam sel sehingga sel akan mengembang karena sel tanaman memiliki dinding sel yang bersifat tegar maka sel tanaman tidak akan mudah pecah akibat tekanan yang timbul dari dalam sel karena masuknya air dari dalam ke luar sel.
2)      Asam dan basa akan berpengaruh terhadap warna antosianin dimana pada pH  rendah (asam) antosianin berwarna merah dan dimana pada pH tinggi (basa) berwarna violet kemudian menjadi biru.
3)      Secara kimia antosianin adalah senyawa berbentuk glikosida yang menjadi penyebab warna  merah biru dan violet pada buah dan sayuran. Sebagian besar antosianin beraal dari 3,5,7 – trihidroksiflavilium klorida dan bagian gula biasanya terikat pada gugus hidroksil pada karbon 3. Dan beberapa antosianin mengandung komponen tambahan seperti asam organik dan logam (Fe, Al, Mg). Adapun strukturnya :
Cl                                      
                                     O
                 OH                                

                                                              OH
                                         OH

3, 5, 7-Trihidroksiflavilium klorida, struktur dasar antosianin
 

                                                                                                                           


O                                                                                O
                                                                                                                 CH

                              COH                                                                            CHOH
                       C                                                                                 C


                      O                                                                                 O







                                                           O
                                                                  CH


                                                           C

                                                          O




4)      Dengan pemakaian asam warna antosianin menjadi merah dan dengan pemakaian basa warna antosianin menjadi violet kemudian menjadi biru.
5)      Pengaruh ion terhadap membran terkait dengan perubahan permeabilitasnya dimana kita ketahui bahwa ion-ion untuk dapat melewati suatu membran sel yang bersifat selektif permeabel, melalui suatu pertukaran ion. Dimana ion-ion yang berada di dalam sel, jika keluar dari dalam sel akan di gantikan oleh ion-ion yang ada di luar sel. Sehingga permeabilitas membran dapat dilalui oleh ion-ion.
6)      Sel yang mengalami deplasmolisis dalam gliserol akan medadak  pecah ketika ditempatkan dalam air murni karena gliserol merupakan larutan yang bersifat hipertonis bagi cairan sel yang ada di dalam sel, yang mengakibatkan sel akan  mengkerut, sehingga jika diberi air, maka dinding sel akan mengembang dan sel akan mengalami imbibisi, dimana air diserap melebihi batas normal penyerapan dari sel (isotonis) sehingga sel akan pecah.